“ M A L A N G ”
Seperti biasanya, sepulang sekolah aku selalu mengikuti kegiatan bimbel yang lebih terkenal lagi dengan sebutan Les, ataupun belajar tambahan.
Hari itu adalah hari Senin, yang dimana hari Senin itu Les giliran nya Ibu guru yang masih muda & cantik, yaitu pelajaran Bahasa Indonesia.
Dan Seperti biasanya, saya & teman-teman pun mengikuti Les dengan penuh semangat.
Waktu terus berputar dan berjalan, sehingga tidak terasa waktu untuk Les pun telah habis. Ibu guru membubarkannya. Kami pun keluar dengan tertib.
Baru saja sepuluh langkah kaki ku meninggalkan gedung sekolah, tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya, mengguyur semua yang berpijak di bumi ini.
Ku percepatkan langkah ku, sedangkan sebagian dari teman-teman ku ada yang lari terbirit-birit seperti takut oleh air hujan.
Di perempatan jalan, aku dan teman-teman ku berpisah, ada yang berjalan ke sebelah Selatan, dan Utara. Sedangkan aku berjalan menuju sebelah Timur. Aku berjalan menghadang hujan sore itu sendirian. Rasanya sepi dan kedinginan sekali.
Tiba-tiba, aku mempunyai ide yang cukup cemerlang. Yaitu meminjam payung kepada teman ku, yang rumah nya itu terletak di pinggir jalan. Senangnya bukan kepalang ketika aku lihat dia berada di luar rumahnya.
“Mad, pinjem payung donk!!!” sahut ku, agak sedikit berteriak
“oh, ia tunggu dulu yach Ndin…” jawab Ahmad pada ku
“iya”
Setelah aku tunggu dia dan berharap dia membawa payung, ternyata dia tidak muncul juga. Akhirnya ku putuskan tuk menerjang hujan lagi.
“Andiiiiin……” teriak Ahmad memanggil ku
Aku pun langsung membalikkan badan, dan melihat ke arah Ahmad
“ada apa???” tanya ku yang agak sedikit kecewa karena melihat Ahmad tidak membawa payung
“Ndin, payungnya gak ada, lagi ada yang pakai…”
“oh… ya gpp lah…” jawab ku lagi
Di kedinginan itu ku langkah kan kaki sendiri…. “Ugh, betapa malang nya aku”
Di tengah perjalanan, aku melihat ada pos ronda yang biasa di pakai ngeronda oleh para warga setempat. Aku menuju ke pos ronda itu untuk berteduh, dan menunggu reda nya air hujan. Disana aku duduk, dan memikirkan hal apa yang musti aku lakukan saat itu. Aku teringat kalau pos ronda yang aku jadikan tempat berteduh ini dekat dengan lokasi rumah dua orang adik kelas ku.
Ku keluarkan Hand Phone di saku Rok ku, dan langsung mengetik pesan singkat yang di tujukan untuk adik kelas ku itu.
“Asri,t’Andin disini khujann,km pny pyumg gk??? Pnjem donk!!!!”
Pesan pun terkirim. Aku tunggu balesan SMS ku, tapi ternyata yang ku harapkan tidak muncul juga.
Ku edit pesan yang tadi sudah aku kirin ke Asri, dan ku kirim kan ke adik kelas ku yang satunya lagi
“April, t’Andin disini khujann, km pny pyung gk??? Pnjem donk!!!!”
April pun langsung membalas via SMS ku itu
“emank’y t’Andin skrng lgi ada dmna???”
Lalu ku balas lagi SMS itu
Aku : “lgi d pos ronda yg ada d dkat rumah km…”
April : “sma siapa???”
Aku : “sndirian… April pny gk pyung’y???”
April : “Ada jga pyung yg gedeeeee bhangedz…. Tpi itu jg gk tw dmana nympan’y”
Aku : “oooh… ya udah, biar aq tnggu hjan’y reda aja….”
April : “Mf ia t’…”
Aku : “ia, gpp qo’… mngqn dah shruz’y aq ujan-ujann kle…”
Akhirnya aku pun turun dari pos ronda itu, dan ku lanjutkan kembali perjalananku.
Perjalanan yang memakan waktu cukup lama untuk segera sampai di rumah. Hujan pun turun tidak beraturan, kadang deras, dan terkadang juga turun agak cukup reda.
Sesampainya di rumah, Ibuku langsung memarahiku karena tadi pagi aku lupa membawa payung ke sekolah. Dan resikonya karena aku lupa membawa payung, maka basah kuyuplah baju yang aku kenakan itu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar