Rabu, 18 April 2012

Menguji Kesabaran


“MENGUJI KESABARAN”

“Pluk…” Jarum paku yang akan dia pakai terjatuh dengan tiba-tiba,,,
“Ugh… pake acara jatuh segala lagi, mana sich jarumnya???” dia mengumpat dalam hati sambil terus mencari jarum pakunya itu.
“Ayolah jarum, kemana sich kamu??? Gak solider bangets. Udah jam 1 nich, nanti aku kesiangan!!!” Rina seperti orang yang sudah tak waras lagi bicara sama jarum, yang sudah jelas barang mati itu.
Hari ini dia ada acara, yaitu mengikuti perlombaan di suatu kegiatan, yang tempat nya itu lumayan jauh dari rumahnya. pergi kesana harus naik angkutan umum, yang memakan waktu cukup lama, kurang lebih 15 menitan. Jadi dia harus bergegas pergi. “Tapi jarumku??? Akh sudahlah ku pake jarum yang lain saja.” Sahut Rina pelan

Di jalan, dia langkahkan kaki besar dan cepat karena waktu terus berputar.
Tiba di tempat perjanjian dengan teman-temannya, dia lihat belum ada satupun yang menampakkan batang hidungnya. “Ugh… tau waktu gak sich kalian itu??? Udah jam setengah dua nih…” Umpat Rina
Akhirnya dia duduk di pos ronda dengan hati yang di selimuti dengan 3K, Yaitu Kekesalan, Kekecewaan, dan Kemarahan. Sambil menunggu semua teman-temannya.
Tak lama kemudian, datanglah Khasanah dengan mengernyitkan keningnya.
“Rin, yang lainnya pada kemana??? Belum datang???” tanya Khasanah
“Ia nih, gak konsisten bangets, di Janjiin jam setengah dua, eh… belum pada nongol juga. Udah tau lomba itu di mulai jam dua” Jawab Rina dengan nada kesal
“Ya udah, kamu bawa HP gak??? SMS aja mereka!!!” saran Khasanah
Tanpa basa-basi lagi dia keluarkan HP butut nya, dan langsung mengotak-atik. Dan terkirimlah SMSnya pada Rania.
“tet… tet… tet…” HP butut nya berdering pelan, ada satu pesan masuk. Langsung ia buka, dan ia baca.
“SMS dari Rania!!!” sahur Rina agak sedikit kencang pada Khasanah
“apa katanya???” Khasanah penasaran
“Kalian berangkat saja duluan!!!” dia bacakan SMS dari Rania itu
Khasanah termelongo medengarnya
“Akh sudahlah, meningan secara terpaksa kita tungguin aja mereka. Ntar kalau kita ninggalin mereka, takut nimbulin masalah” Rina melemas

Di ujung jalan sana, terlihat Aziz dan Hafidz berjalan dengan langkah besar. Dari kejauhan mereka berdua memberikan kode “yang lainnya masih disana”…
Tak lama kemudian, sampailah mereka di pos ronda tempat Rina dan Khasanah terdiam menunggu mereka semua. Khasanah langsung bertanya:
“Mereka lagi dimana???”
“Akh... anak-anak itu memang super lelet bangets, mereka masih di jalan kampungnya.”
Saking kecewanya pada Rania dan Amel, Banyak sekali pembicaraan yang menjelek-jelekkan mereka berdua. Setelah ratusan, bahkan ribuan, entah jutaan kata-kata jelek buat mereka yang lelet itu, datanglah anak-anak super lelet itu dengan wajah tanpa dosa.
Sengaja mereka berempat (Rina, Khasanah, Aziz, Hafidz) tidak bertanya pada Rania dan Amel. Mereka hanya terdiam membisu dan berjalan ke arah jalan raya.
Semuanya naik mobil yang sudah lama menunggunya. Di dalam mobil, semuanya terdiam. Tak ada yang berani mengeluarkan suara. Tetapi… Rina memberanikan diri untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu, dan langsung memarahi Rania:
“Nia, kamu tau gak sich, kalau perlombaan itu di mulainya jam dua??? Mentang-mentang kamu gak ikutan perlombaan  itu, jadi kamu sengaja datang siang. Tolonglah hargai kami semua… diantara kami ini banyak yang ikutan lomba, ku mohon… kamu fikirkan juga diri orang lain!!!” Kata Rina dengan halus
Akhirnya, Khasanah pun ambil alih bicara, dia pun ikut memarahi Rania. Tetapi Rania tidak Merespon semua yang di bicarakan Rina dan Khasanah itu, dia hanya diam dan memalingkan muka ke arah yang berlawanan dengan Rina dan Khasanah.
Dalam hati, Rina bicara sendiri, “Rania, maafin aku yach udah marah-marahin kamu, Aku tau ko kalau bukan kamu pemecah Rekor Miss Lelet itu. Aku tahu kalau semua itu gara-gara Amel. Sebenarnya aku gak marahin kamu sama sekali, tapi sebenarnya secara tidak langsung aku itu marahin Amel. Please Rania, ngertilah kondisi ini….”
Mobil yang mereka tumpangi terus maju. Tidak terasa mereka pun sudah sampai di tempat tujuan. Mereka harus berjalan kaki kurang lebih 200m panjangnya menuju tempat perlombaan itu di laksanakan. Semuanya membisu, tak ada satupun yang bahagia pada hari itu.
Sesampainya… terlihat acara perlombaan itu belum di mulai, bahkan banyak orang yang belum datang pada waktu itu. Amel tersenyum sinis dan berbisik sesuatu pada Rania “Tuh kan, acaranya belum di mulai. Huh… dasar mereka itu sewott”.
Walaupun berbisik, tapi tetap saja kalimat itu terdengar oleh Rina, dan Rina pun langsung bicara tanpa suara “Ia enggak salah kan kalau kita datang sebelum acaranya di mulai??? Biar kita enggak terlalu tegang. Belajar nepatin janjilah kali-kali mah… belajar hargai waktu… belajar hargai temen… jangan mentingin diri kamu sendiri… Mel, mungkin saat ini kamu menang, tapi biarlah semua ini terjadi, karna dari hal tadi, kita itu khususnya diri aku sendiri bisa belajar bersabar dalam menghadapi apapun…”
* * *




Disya Nanhoerfh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar