Rabu, 18 April 2012

Trauma



“Anak-anak, nanti pukul 14.00 kalian ada pelajaran tambahan, jadi di harapkan kepada semuanya harus datang tepat waktu!!!” kata ibu guru di depan kelas.
“Haaaahh…. Belajar tambahan???” dengan serempak, semua anak-anak menjawabnya. Sepertinya, mereka tidak ingin mengikuti pelajaran tambahan yang di adakan secara mendadak itu.
“males Bu akh, kalau haruz belajar siang-siang bolong gitu mah, dari pada belajar, mendingan berlayar ke pulau mimpi.” Celetuk seorang siswa laki-laki
“uuuhhh… dasar situmorang” jawab anak laki-laki yang lain nya lagi
“situmorang??? Apaan tuch???” anak perempuan pun ikut angkat bicara
“situmorang, si tukang molor ti beurang…”
“hahaha… “ semua anak-anak tertawa terbahak-bahak.
“udah-udah, jangan berisik!!!” ibu guru berusaha menenangkan
“Bu, belajar tambahan nanti boleh pakai baju bebas gak???”
“iya, boleh saja. Asal yang sopan.” Jawab bu guru dengan bijaknya
“horeee…” anak-anak pun bersorak kegirangan.
 Ibu guru membubarkannya, dan mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing.

* * *

            Nisa, salah satu dari sekian banyak siswa yang di suruh mengikuti pelajaran tambahan itu, nampak nya ia kebingungan, mau pakai baju yang mana. Ia bingung entah karena apa, mungkin ia bingung karena ia tidak punya baju yang cukup bagus untuk di pakainya nanti, atau bahkan bisa saja ia bingung karena baju yang ia punya terlalu banyak, jadi ia pun bingung, baju mana yang paling bagus diantara semua yang ada.
Hijau. Ya baju yang berwarna hijau yang akan ia pakai. Karena baginya, kalau ia memakai baju berwarna hijau, ia akan terlihat lebih cantik, dan lebih fresh.
Jam dinding pun sudah menunjukkan pukul 12.45. Nisa segera bergegas pergi ke kamar mandi. Dan setelah mandi, ia pun berdandan sangat rapih dan cantik, dengan berpenampilan serba hijau, dari atas sampai bawah. Kerudung berwarna hijau muda, baju dan rok yang berpolet warna hijau muda dan hijau tua. Kaos kaki pun tidak lepas dari warna hijau. Sungguh sangat terlihat amat cantik sekali seorang Nisa pada waktu itu.
            Jam sudah menunjukkan pukul 13.30. Nisa berpamitan kepada ibunya. Ia pun tak lupa membaca doa ketika ia keluar rumah.
Tiba di sekolah, ia tidak melihat ada seorang teman pun yang sedang nongkrong di dekat gerbang sekolah. Nisa terheran-heran, sedangkan jam tangan yang ia pakai sudah menunjukkan pukul 14.05.
“Wah, jangan-jangan aku kesiangan nich…” sahut Nisa dalam hati
Ia pun segera ke kelasnya. Dan ternyata, semua teman-temannya sudah ada di dalam kelas, mereka sedang belajar.
“tok-tok-tok…. Assalamu’alaikum…” Nisa membukakan pintu. “Bu maaf, saya kesiangan”
“Oh ia tidak apa-apa, ayo masuklah!!!” jawab bu guru yang bernama Bu Mina itu. Dia adalah guru yang terkenal dengan kesabarannya menghadapi anak didik yang berada dalam pengajarannya. Tidak pernah sekalipun ia membentak ataupun memarahi sang murid, meskipun murid itu selalu melakukan kesalahan. Ia selalu menasihatinya dengan lemah lembut. Apalagi Nisa, mana mungkin seorang bu Mina memarahi Nisa yang hanya karena ia telat masuk 5 menit. Nisa adalah murid kesayangan Bu Mina, karena Nisa sangat pandai sekali dalam pelajaran yang Bu Mina pegang selama ini.
            Nisa pun masuk ke kelas, dan duduk di bangkunya sendiri. Wini, sahabatnya sudah berada sejak tadi. Wini duduk satu bangku dengan Nisa, mereka adalah dua sahabat yang tidak bisa di pisahkan antar satu sama lainnya. Persahabatan mereka sangat kental sekali, sehingga mereka berduapun terkenal oleh anak-anak satu sekolahan. Kemana-mana selalu berdua, mereka sangat kompak sekali.
Namun, apa yang terjadi pada waktu itu?? Ketika Nisa duduk di sebelahnya, tiba-tiba Wini segera menjauh, dan menyuruh Tia pindah ke bangkunya, agar Wini bisa duduk di tempat duduk Tia. Awalnya Tia tidak mengerti apa yang Wini inginkan, tapi Wini menarik tangan Tia dengan cara paksa, supaya ia pindah ke tempat duduk Wini. Terlihat dari raut mukanya, Wini sepeti yang sedang marah, takut, dan kesal, semua bersatu pada waktu itu.
Nisa terheran-heran, mengapa Wini berlaku seperti itu??? Sejenak ia pun berfikir, kesalahan apa yang telah ia perbuat, sehingga menyebabkan Wini seperti itu. Namun Nisa merasa, tidak ada kesalahan yang ia perbuat pada Wini, sewaktu pulang sekolahpun, Nisa dan Wini pulang sama-sama.
Tia yang kini duduk di sampingnya Nisa, bertanya dengan agak sedikit membisik “Nis, ada apa??? Kok kayaknya Wini marah sama kamu??? Kalian sedang marahan??? Karena apa??? Kok tumben, gak biasanya.” Tia seperti seorang wartawan yang sedang mewawancarai narasumbernya.
Nisa hanya menggelengkan kepala dan berujar “Aku juga tidak tau” jawaban yang sangat singkat, tapi mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan Tia, yang seperti wartawan itu.
Nisa mencoba untuk bisa serius memperhatikan Bu Mina yang sedang berbicara di depan kelas itu. Tapi ternyata Nisa tidak bisa berkonsentrasi sedikit pun, karena ternyata fikirannya hanya tertuju kepada Wini. Nisa merasa sedih sekali ketika Wini bersikap seperti itu.
“Win, Wini!!!” Nisa mencoba untuk memanggil Wini yang berada duduk di barisan kedua setelah tempat duduk Nisa. Tapi Wini tidak menoleh sedikit pun. Entah karena tidak terdengar, atau bahkan mungkin karena Wini memang sedang benar-benar marah pada Nisa.
“mmm…. Dia kenapa sich??? Ko tumben dia ngegituin aku??? Apa salah ku??? “ Nisa membatin

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. waktu belajar pun sudah selesai. Ibu guru segera membubarkan siswa-siswinya. Sebelum pulang, seperti biasanya mereka berdoa, di pimpin oleh Ketua Murid yang berada di kelas itu. Setelah selesai berdoa mereka keluar kelas dengan tertibnya.
Wini berjalan setengah lari, dengan cepatnya. Ia seperti orang yang ketakutan, ia seperti orang yang sedang di kejar-kejar oleh sesuatu yang amat menakutkan. Akan tetapi, ia takut karena apa??? Disana tidak terdapat sesuatu yang menakutkan. Nisa melihatnya dengan terheran-heran. Ia ingin segera lari mengejar Wini yang sudah berada jauh dengan jaraknya. Tapi ia tidak berhasil. Ia hanya berdoa, supaya Wini sahabatnya itu tidak kenapa-napa.
Jalur jalan yang Wini dan Nisa tempuh untuk menuju rumahnya berbeda arah, jadi Nisa pun tidak bisa mengikuti Wini sampai ke rumahhnya.
Masih tersimpan dalam benaknya, sejuta tanya, tentang apakah gerangan yang membuat Wini menjadi seperti itu.

* * *

Esok harinya, ketika di sekolah.
Nisa masih memikirkan sesuatu yang telah terjadi kemarin. Dia sangat berharap, dia bisa menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan nya, hari ini juga.
Tiba di sekolah, dia belum melihat Wini. Nisa teramat sangat menghawatirkan sahabat dekatnya itu. Setelah lima menit kemudian, barulah Wini datang ke sekolah, dia langsung masuk ke kelas, dan langsung menuju ke arah Nisa yang sedang duduk di bangkunya. Seolah-olah tidak terjadi apapun pada hari kemarin, Wini langsung bercerita kesana kemari tentang film faforitnya yang telah ia tonton pada malam hari, dan yang pastinya dia bercerita pada Nisa. Nisa termelongo di buatnya. Ia terheran-heran.
“duch, kalian udah baikan lagi ya?? Bagus deh kalau gitu mah…” sahut Tia yang baru masuk ke kelas.
“yeh, siapa yang udah baikan?? Emank kita berdua mah selalu baikan kok” Wini, membela
“buktinya kemaren?? Kamu menjauh dari Nisa. Kenapa hayooo??”
“Ah tidak, tidak kenapa-napa” jawab Wini sambil menundukkan kepalanya
“Ia Win, kemaren kamu kenapa?? Kok tiba-tiba kamu ngegituin aku sich??” Nisa memohon agar Wini memberikan jawaban
“Ah tidak, tidak kenapa-napa” Wini semakin menunduk dalam-dalam
“jujur aja Win, kasihan tuch Nisa. Kemarin dia sedih karena kamu ngegituin dia” bela Tia pada Nisa
“aku…. Mmmm…. Aku….” Kalimat Wini terpotong-potong
“Kamu kenapa sich?? Ada masalah apa?? Cerita donk sama aku!!” dengan halusnya Nisa bertanya
“Ayolah Win, cerita sama kami!!” desak Tia, karena saking penasarannya
“Tapi kalian harus janji ya…!!” Wini menatap kedua mata temannya itu dengan dalam
“janji apa??” jawab Nisa dan Tia hampir bersamaan
“kalian janji jangan bilang ke siapa-siapa lagi…”
“Ia Insya Allah Win…”
“Nis, sebenarnya kemaren aku gituin kamu, karena kamu…..” Wini memberhentikan ucapannya
“karena aku apa Win??” Nisa terlihat sangat sedih sekali
“Win, ayolah jangan bikin kami penasaran” Tia tetap dengan desakannya
“karena kemaren kamu, pakai baju berwarna hijau”
“Lah… emang aku salah kalau aku pakai baju warna hijau??” Nisa semakin bertanya-tanya
Sesaat, semuanya terdiam. Tatapan mata Wini mengarah kedepan, tertuju pada satu titik. Ia seperti melihat masa lalu, dan ia seperti terus mencoba untuk melihat, dan mengingatnya.
“dulu… ketika aku masih SD… Sewaktu aku pulang sekolah, aku berjalan melewati seorang Ibu yang sedang terduduk di pinggir jalan. Aku tidak tahu siapa dia, dan sedang apakah dia. Tapi aku berfikir, dia adalah seorang pedagang, karena ku lihat dia membawa bakul, dan semacam buah-buahan terdapat di dalamnya. Dia menatapku, ketika aku lewat di depannya. Pandangan matanya cukup tajam. Sehingga aku pun takut di buatnya. Tapi aku berikan sesungging senyum untuk ibu itu, dan ku ucapkan ‘permisi bu’. Ibu itu sama sekali tidak merespon apa yang telah aku lakukan. Dia tetap memandangku dengan tatapan yang tajam, bahkan tatapan matanya pun semakin tajam. Kira-kira, setelah lima langkah ku langkahkan kaki dari tempatnya terduduk, ada sesuatu benda yang mengenai punggung ku. Aku pun menoleh ke belakang, dan melihat baju ku. Baju ku sangat kotor, bukan kotor berwarna coklat tanah, tapi kotor berwarna hijau. Karena ada buah alpukat yang telah di kelupas cangkangnya, yang sengaja di lemparkan kearah ku. Aku tak tau siapa yang berani-beraninya menjahili ku. Ku lihat kearah ibu-ibu tadi, dia menggenggam sesuatu yang berwarna hijau, dia meremas-remasnya dan langsung melemparku dengan alpukat yang ada di genggamannya. Dia mengejarku, sambil terus melempariku dengan alpukat-alpukat yang ada di dalam bakulnya itu. Aku pun lari sekencang mungkin. Dan ternyata Ibu itu telah berhenti mengejarku. Ku lihat bajuku, sangat jijik sekali, banyak warna hijau yang menempel. Jijik, dan sangat jijik sekali. Dan ternyata, terdengar dari informasi-informasi yang sampai di telinga ku, Ibu itu adalah orang gila, dia sangat stres. Kata orang, dulunya dia itu adalah pedagang alpukat. Aku tidak tau persis apa yang menyebabkan ia menjadi gila, dan melempari aku dengan alpukat yang telah ia kelupas.” Akhirnya Wini pun bercerita dengan panjang lebarnya.
“Lalu, apa hubungannya dengan baju hijau aku yang kemaren??” Nisa bertanya, sembari menahan tawanya
“Oh… mungkin karena baju yang Nisa pakai itu seperti warna alpukat, yang nempel di baju Wini waktu dulu. Jadi ketika Wini melihat Nisa memakai baju hijau itu, Wini menjadi ketakutan, dan ingat masa lalu… begitu??” prediksi Tia
“ya… kira-kita begitulah…” jawab Wini singkat
“jadi, hanya gara-gara itu kemaren kamu jauhin aku???”
“O…. jadi kamu itu trauma???”
Hahahaha…….” Nisa dan Tia tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Wini tadi

1 komentar:

  1. Casino - MapyRO
    A Casino is an 진주 출장안마 exciting gaming destination in the heart of Las Vegas. Whether you're on the strip or 전주 출장안마 at the beach or just looking for something 경주 출장안마 for 경기도 출장안마 a weekend getaway, 경상남도 출장샵

    BalasHapus