Pagi hari, seperti ada yang hilang di rumah itu, entah apa… serasa beda dari hari biasa-biasa nya, mungkin karena sang Ibu sedang ke luar Kota.
Dengan hati dan Jiwa yang sangat lelah, pagi itu Syila anaknya yang baru kelas tiga SMP Menggantikan tugas Ibunya untuk sementara waktu, sejak bangun tidur ia langsung giat beres-beres, dari yang ringan sampai yang berat.
Saat Ia menekuni pekerjaan nya, tiba-tiba sang adik laki-laki berbuat sesuatu yang tidak berkenan di hatinya Syila, serta merta dia memarahi adiknya yang cukup terkenal bengal di keluarga itu, mungkin Pagi itu Syila sia-sia memaki adiknya, karena dia tak pernah menyerap kata-kata Kakaknya itu, seperti angin lalu yang lewat begitu saja.
Akhirnya Syila pun melanjutkan pekerjaan nya, pel lantai luar. Adiknya bermain sepak bola sendirian di halaman rumahnya. Amarah Syila pun reda dengan begitu saja, seiring dengan detikan jam yang terus berputar pada pagi itu.
“Bluk…” tendangan bola yang kesekian kalinya di lakukan Haris adiknya Syila itu tiba-tiba mendarat ke lantai yang sudah di bersihkan Syila. Dengan spontan Syila pun memarahi Haris untuk yang kedua kalinya di hari yang sama.
“Kamu bisa hargai orang gak sih??? Kakak cape tau….??? Kamu enak, kerjaan nya cuman main, main, main dan main…. Ayo cepat tuh lantai nya bersihkan lagi!!!” kata Syila dengan nada yang sangat marah sekali.
“Akh… kakak saja sendiri yang bersihin. Emank aku Babu Kakak apa???” Jawab Haris santai sambil mengarahkan tendangan maut nya kembali ke arah lantai yang sudah di pel.
Syila akhir nya memaksakan diri untuk diam, memendam amarah di hati. Berulang kali Haris melakukan hal yang sama. Sampai akhirnya ia berhenti dari aksi nya tanpa di suruh Syila.
Sambil terus menyelesaikan pekerjaan nya itu, Syila merenung kan hal yang telah terjadi antara dia dengan adiknya, Haris. di akhir lamunan nya Syila berkata dalam hati nya sendiri:
“Oh mungkin aku salah menghadapi adik ku itu dengan amarah, Mungkin aku harus diam tanpa melakukan reaksi apa-apa jikalau dia sedang dalam aksi nya. Toh kalau sudah cape dia berhenti juga, Maaf kan Kakak, dik. Di balik semua itu Kakak itu sayang bangets sama kamu….” Gumam nya.
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar